Langit Biru

"Belum bisa."
"Kenapa aku masih belum bisa."
Pikiran itu kembali muncul. 
Pikiran yang telah memenuhi kepala selama bertahun-tahun pelarian ini kembali menghampiriku.

Saat aku mandi, saat aku tidur. Saat aku mengikat tali sepatu, saat aku membuang plastik sampah, saat melepas baju, saat menunggu antrean, saat mengunyah makananku. Tiap kali aku melakukan sesuatu yang tidak memerlukan daya akalku, pikiran itu kembali muncul.

Di tengah ranjang mempersiapkan diri untuk tidur di malam sebelum masa SMA-ku dimulai, aku memutuskan kembali mengacak kubik yang kuambil di atas meja belajar.
Berusaha mengaburkan bayangan gadis kecil yang kuambil masa depannya 3 tahun lalu.


- - - - - - - - -


"Akhirnya pindah juga," pikirku sembari menurunkan beberapa mainan milikku dari truk sembari mencoba bersiul sebisanya, sebelum akhirnya menyenderkan badanku yang berkeringat ke dinding dekat meja penuh minuman dingin.

"Kita pindah ke sini karena kamu, ya, jadi bantu sampai selesai!" Ibuku yang sedang mengangkat barang bersama para pekerja kurir sepertinya kesal melihat aksiku itu, sementara ayahku cukup mengerutkan alisnya ke arahku. Aku yang mengabaikan gangguan itu membuat suara Ibu semakin keras. "TSUKI!" 

"IYA!" Tubuhku yang sudah lepek lantas kembali berdiri dan menuju ke truk pindahan.

Aku mengorek-ngorek tumpukan barang-barang di dalam, mencari barang yang enteng untuk kuangkat keluar. Saat sedang serius dengan pekerjaanku, suara yang khas mencuri perhatianku. "Bola? Ada lapangan di dekat sini, ya?" Suaranya terdengar samar. Aku yang merasa mencari tahu sumber suara tersebut, memutuskan untuk melarikan diri dari tugasku ini.

Aku berjalan ke arah barat dari rumahku. Suara yang semakin kencang itu, semakin membuat rasa penasaranku meningkat. Setelah 200 meter aku berlari, aku melihat bayangan di tengah lapangan. Saat itu cuaca begitu terik, sehingga keberadaannya terasa begitu mencolok. "Orang gila mana yang main bola jam segini." Melihat semak-semak, aku pun menyembunyikan diriku di baliknya.

Sosok yang berada di sana nampak seumuran denganku. Tubuhnya ramping dan seperti anak SD pada umumnya. Namun, rambutnya panjang, layaknya anak cewek. "Ehh, cewek!?" Kejutku ketika menyipitkan mata untuk memperhatikan bocah tersebut dengan lebih seksama. Teriakanku sepertinya terlalu keras, dia menoleh ke arahku. Aku menutup mulut erat-erat dengan kedua tanganku. Seolah angin semata, dia mengampiri bolanya dan mulai menggiring benda bundar itu. 

Dia berlari dengan begitu tangkasnya kembali menuju tengah lapangan, kakinya begitu lihai mengontrol bola yang terus bergulir itu. Aku terpukau dengan semua gerakannya yang begitu terampil. Hingga rasa pukauanku melonjak meningkat. Dia menendang si kulit bundar itu sangat keras, tepat sasaran ke arah gawang. "Itu 30 meter, lho!" Gumamku.

"Bagaimana? Keren, kan!?" Teriak anak cewek dengan seragam sekolah itu.

"Ehh. Aku?" 

Comments

Popular Posts