Can We Talk Again Tomorrow?
![]() |
| illustration: © さくらいぬ |
Dhuna selalu berpikir bahwa dirinya hanyalah seorang siswa yang berada di kasta tengah, yang sering kali dianggap seluruh siswa di sekolahnya itu sebagai anak yang biasa-biasa saja. Dhuna selalu pergi ke sekolah dengan niat yang terpaksa, hanya nongkrong dengan grup sepermainannya saat jam istirahat dan kembali ke kelas dengan perasaan ngantuk; dia lebih sering kali terdistraksi dengan handphone-nya di tengah pelajaran, sementara sepulangnya dia jarang sekali tidak berkunjung ke rumah salah satu teman dari grupnya untuk main Play Station 4. Tidak ada yang istimewa sama sekali. Dhuna hanyalah anak yang tergolong siswa SMA kasta tengah.
Namun, kasta itu bukanlah suatu ketentuan yang ditetapkan secara bersama. Itu hanya ketentuan fiktif. Tidak ada sama sekali. Bahkan, keberadaan siswa lain di SMA Jaya Bakti yang mengganggap benar semua itu tidak bisa dipastikan. Dhuna hanya meyakini seorang diri, bahwa ada sebuah sistem kasta di sekolahnya. Sistem yang membuat salah satu golongan murid dari salah satu kasta tidak diperbolehkan untuk mencampuri urusan pribadi dari golongan murid yang terdaftar dalam kasta lain. Ada peraturan tidak tertulis yang harus semua murid di sekolahnya patuhi. Jika mereka melanggarnya, mereka akan menerima konsekuensinya. Dhuna paham itu semua, secara keseluruhan. Dhuna meyakininya dengan sangat mantap.
Di awal semester pertama, di tahun keduanya bersekolah di SMA yang hampir setiap sisinya ditumbuhi bunga itu, datang seorang murid baru di kelasnya. Dia adalah murid yang pindah dari Jakarta. Seorang siswi dengan penampilan modis. Selayaknya anak murid perempuan dari Jakarta yang biasa dibayangkan di tempat tinggalnya.
Siswa dari Jakarta itu memakai seragam yang nampak bersih seolah dia langsung memakainya setelah mengambil dari laundry. Dia memakai pakaian luaran berupa almamater yang menambah kesan spesialnya, juga aksesoris bando berwarna putih cerah yang senada dengan warna seragamnya yang cerah itu. Rambutnya panjang melebihi bahunya, berwarna hitam bersih. Dhuna bisa membayangkan kalau tangannya mungkin akan langsung geli meskipun baru menyentuhnya sejauh 0,01 mm. Rambut paling lembut yang bisa dia pikirkan pun tidak sebanding dengan rambut anak baru itu. Senyumnya terasa lebih terang dari cuaca pagi yang dia hadapi saat berangkat, namun lebih sejuk dibanding saat berteduh setelah memarkirkan sepeda motornya di area parkir sekolah.
Ditandai dengan kelas yang menjadi ricuh seketika dan mendadak seluruh pandangan menuju ke arah papan tulis, Dhuna tahu bahwa pendapatnya, mengenai kasta, adalah absolut.
Siswi itu bernama Freya. Freya masuk ke kelas dengan masih mengenakan seragam sekolah lamanya. Dibandingkan murid perempuan di sekolahnya yang mengenakan dasi, dia mengenakan pita; dibandingkan murid di sekolahnya yang hanya memakai seragam, dia menambahkan almamater. Semuanya terpesona melihat rupanya itu. Dhuna tidak mengerti kenapa dia mau repot-repot untuk tampil mencolok seperti itu. "Apa mungkin seragamnya belum siap? Tidak masuk akal." Dhuna tidak mengerti cara pikirnya. Dia pun baru teringat bahwa anak sekolah dari Jakarta yang biasa terlihat di televisi memang seperti itu. Anak-anak yang selalu mencari perhatian, pikirnya.
Setelah wali kelasnya berbicara singkat soal murid baru yang sebelumnya sudah pernah dia beri tahukan, akhirnya Freya mengeluarkan suaranya untuk pertama kalinya. "Namaku Freya. Aku pindah dari Jakarta karena pekerjaan ayahku. Aku ingin akrab dengan kalian semua, jadi jangan sungkan untuk mengobrol denganku, ya." Suaranya lembut, tidak kontras dengan caranya berpakaian yang terlalu berlebihan. Cara berbicaranya terasa angkuh, namun susunan kalimatnya yang sopan jadi tidak terasa demikian. Dhuna bingung dengan penilaiannya. "Apa aku menjadi bias hanya karena menilai dari tubuh dan wajahnya?"
Dhuna tidak sadar bahwa dia pun memperhatikan ke arah papan tulis selama sesi perkenalan, hingga akhirnya Freya duduk di kursi yang sebelumnya ditunjuk oleh wali kelas XI-IPS4. kursi yang berada di samping kursi milik Dhuna.


Comments
Post a Comment