Gadis Bunga Matahari
![]() |
| illustration: © 森倉円 |
On progress.
Hari itu, di saat terakhir bersekolah, aku menyatakan perasaanku.
Gadis yang kudatangi itu sedang jongkok, mengamati bunga-bunga di halaman klub berkebunnya dengan lengan bajunya yang menggulung dan rambutnya yang terikat ke belakang. Menyadari kehadiranku, dia membalikkan pandangannya. Mulutnya terisi penuh satu batang KitKat, aku terperangah. Pemandangan yang khas selama tiga tahun ini.
"Adya, kan?" Mungkin terdengar aneh, tapi ini pertama kalinya kita berbicara secara empat mata.
"Hm."
"Ada apa?"
Aku berusaha melonggarkan tenggorokanku yang rasanya kian sempit ini, hingga akhirnya aku berhasil mengeluarkannya. "Vahira. Aku menyukaimu."
Vahira. Gadis paling random yang pernah aku temui selama bersekolah di sini.
Aku masih ingat, di mana pertama kalinya aku melihatnya. Saat itu, klub berkebun mengadakan open house bagi para siswa baru yang tertarik dengan kegiatan mereka. Di penghujung acara, saat ketua klub menawarkan kita untuk bertanya, di tengah-tengah puluhan murid baru, dia mengangkat tangannya dengat sangat tegak,
"Ya?"
"Aku gak ada pertanyaan, sih, tapi Kak Radhit mau KitKat? Aku punya banyak di rumah kok, kalian mau juga?"
Seketika suasana mencair. Semua geli mendengar ucapannya yang entah datang dari mana itu. Saat semua ramai-ramai mulai mengerumuni dirinya, aku dibuat terdiam memandangi kekehannya yang menyatu sempurna dengan langit jingga yang hangat. Di saat itu, aku tahu, bahwa aku mulai tertarik dengannya.
Tidak ada kejadian berarti beberapa hari setelahnya. Aku memutuskan bergabung dengan klub karate, Vahira memutuskan tetap bergabung ke klub berkebun, aku pun menyesalinya. Aku hanya sesekali menyapa ketika kita saling berpapasan.
Kadang, aku memperhatikan dirinya dari jauh yang berbicara bebas dengan para senior di klubnya atau dengan kucing yang kebetulan mampir seolah mengetahui apa yang mereka pikirkan, sambil melakukan aktivitas klubnya di taman sekolah.
Kadang juga, aku mencuri dengar obrolannya dengan teman sekelasnya di kantin "kamu gak ikut beli es, Vahira?" Dia membalas, "maaf, kadar gula harianku sudah mencapai batasnya" sambil membentangkan telapak tangannya. Gadis aneh, nimbrungku dalam hati. Aku terkekeh menyaksikan kelakuannya dari meja kantin.
Entah kenapa, senyumku keluar begitu saja tiap kali melihat tingkahnya.
"Kalau begitu, bagaimana jika begini: kamu rawat benih bunga matahari ini dan kita bertemu saat hari ospek di stasiun UI nanti?"
EH?
"Kamu incar UI juga, kan, Adya?"
Aku masih berusaha mencerna kata-kata random yang dia ucapkan. Untuk kali ini senyumku tidak bisa keluar begitu saja.
"Aku akan memberitahu jawabanku pada saat itu." Dia melempar senyum puasnya, menggendong kembali tasnya, lalu pergi begitu saja. "Jadi, pastikan kamu lulus tes, ya!"
EH.
Masa SMA resmi berakhir. Dan bagi kita, aku secara pribadi yang tidak lulus SNM, artinya ini masa perjuangan.
Aku mulai menyusun jadwal belajarku, sambil mengingat janji tidak jelas yang kubuat dengan gadis yang kutembak: LULUS KE UI.
"Kamu ingat saat aku memanggil namamu sore itu, kan? Kamu sadar, kalau 98,99% orang akan melupakan nama seseorang setelah berkenalan dan tidak memiliki urusan yang sama? Tapi, di saat itu, aku memanggilmu."
Aku tertegun, sementara Vahira tetap melanjutkan ucapannya.
"Aku masih ingat, di mana pertama kalinya aku melihatmu. Aku masih ingat saat semua ramai mengambil KitKat pemberianku dan kau hanya terpaku ke arahku. Aku pikir, ini pertama Kali ya, seseorang melihat wajahku begitu takjubnya. Lantas, aku pun membalas senyumanmu, yang namun hanya direspon dengan buang muka." Vahira terkekeh.
"Sejak saat itu, esok dan esoknya aku semangat mendatangi ruang klub, namun kamu tidak kunjung datang."
"Ujian akhir datang, kelas satu pun berakhir. Ujian akhir datang, kelas dua pun berakhir. Ujian akhir datang, dan kelas tiga pun berakhir. Kamu tetap tidak datang."
"Aku terkejut ketika kau mendatangiku begitu saja. Sebenarnya pikiranku kalang-kabut, karena pakaianku berantakan sekali saat itu dan tanganku kotor. Tapi, di satu sisi aku senang."
"Aku suka penampilanmu yang begitu. Aku suka dirimu yang tidak banyak berubah." Aku menyela kata-katanya.
Selaras dengan terik mentari yang mulai berseri kian terang, Vahira memasang senyumnya. "Adya, aku juga menyukaimu."
Matahari kian ke atas dan kereta terus berganti. Di tengah keramaian para mahasiswa baru yang tergesa-gesa, kita memutuskan untuk beristirahat dan mengomentari beberapa di antara mereka yang lucu, "Kita bakal pakai nametag aneh kayak begitu juga, ya, nanti? Haha". Hingga bahkan teriak menyemangati mereka yang lemas, "semangat Fadhil Husaini!!"
Sembari tetap begitu, kita terus berbincang dan mulai mengitari UI dengan bunga matahari yang masih berada dalam dekapan kita. Tawa terus terlempar dan senyum kian menghiasi suasananya, begitu seterusnya, hingga hari kian larut dengan bahagia.



Comments
Post a Comment