Kucing Kecil
Note: cerita ini hanyalah fiksi belaka.
Saat Ramadhan, tepatnya seminggu sebelum Idul Fitri aku dan seluruh keluarga di perumahanku mendapatkan tamu: dia seekor anak kucing kecil.
Anak kucing itu memiliki warna hitam di seluruh tubuhnya, nampak kumal, dan bertubuh sangat kurus. Namun di antara semua itu, ada satu ciri yang lebih menonjol darinya, dia sangat berisik.
Dia selalu teriak, entah apa masalahnya. Mungkin saja karena dia sedih ditinggalkan orang tua dan pemilik sebelumnya, atau dia tidak terima karena dipindahkan begitu saja oleh Tuhan ke tempat antah berantah yang dia tidak kenal.
Iya, kita semua tidak tahu bagaimana caranya makhluk kecil itu bisa datang ke mari. Intinya, teriakan dia sangat bising. Seperti suara mesin las yang dihantam ke tiang besi beberapa kali, tiap detiknya. Kita semua tidak menyukainya.
Selayaknya manusia dalam menghadapi sesuatu yang mereka tak sukai, selama beberapa hari kita berusaha mengabaikannya, beberapa di antara kami bahkan ingin membuangnya. Mereka tidak ingin makhluk meresahkan itu menjadi bagian dari perumahan ini.
Selama beberapa hari itu, selagi si hitam kecil itu mengawasi dari jauh sambil berteriak seperti biasanya, aku tetap memberikan makan kepada kucing peliharaan yang kami, para keluarga perumahan ini, pelihara. Kucing ini bernama "Moka". Berbeda dengannya, Moka sudah berusia 2 tahun, dia sudah berpengalaman. Tubuhnya yang berwarna putih dan abu-abu nampak bersih dan rapih, terlebih dia tenang dan tidak rewel. Moka adalah kucing pintar, kucing yang pandai berbaur dengan manusia. Kami semua pun sangat menyayanginya karena itu.
Setelah tiga atau empat hari, karena perasaan iba dan tidak enak selagi memberi Moka perhatian yang pantas didapatinya, akhirnya aku mulai berusaha mendekati makhluk kecil yang tidak bosannya mengulangi keburukan yang dia lakukan.
Aku mengulurkan makanan ke arah tempatnya mengintip. Saat itu menunya adalah ayam goreng lengkuas kremes, yang mana aromanya yang kuat itu seharusnya dapat sampai ke arahnya yang kira-kira berjarak 10 meter. Namun, ternyata sifat buruk dia yang lainnya muncul lagi: dia benci dan takut dengan manusia.
Selama lima menit aku menemani Moka makan, si kumal kecil itu tetap dengan prinsipnya yang sama, menunggu aku masuk kembali ke rumah. Karena dia selalu keluar saat orang-orang sudah tertidur di ranjangnya masing-masing, aku jadi berpikir begitu. Sangat tidak berterima kasih, gumamku kesal.
Aku kembali berpikir, bagaimana bisa kucing kecil itu, yang tidak mempunyai pengalaman apa-apa selama hidupnya di dunia ini, dapat bertindak begitu congkak dan penakutnya. Dia menolak bantuan orang yang sudah bersedia ingin menolongnya, seseorang yang bisa saja terus menyuekinya hingga akhir hayatnya.
Aku berpikir lagi, bahkan sepertinya dengan kehebatannya yang terbatas, dia akan kesulitan mencari makanan sendiri di antara plastik-plastik dan kotak-kotak yang ada di tong sampah.
Lalu, apakah dia mau tetap berusaha mengikuti mimpinya yang tidak masuk akal, yang tidak sebanding dengan keadaan tubuh dan kemampuannya yang menyedihkan itu sepanjang umurnya? Makhluk kecil yang keras kepala, makhluk kecil yang tidak berhenti memikirkan angan-angannya yang sia-sia.
Hari raya tiba dan hari raya pun berakhir. Di tempat yang sama, di zona yang jauh dari kehidupan sosial, dengan pikirannya yang sama, dia masih mencari-cari dan mengais makanan yang jatuh di jalan sambil terus menangis. Namun, kali ini aku tidak tahu apa yang ditangisinya.



Comments
Post a Comment