Rintik Hujan dan Mentari Jingga dan Untuk Seterusnya

illustration: © げみ

Ada satu kalimat yang keberadaannya mungkin tidak akan pernah dapat lenyap dalam kepalaku.

"Aku ingin mati."

"Aku ingin mati."

Satu kalimat yang sama, yang muncul dari dua orang yang berbeda. Pada mulanya aku menganggap kalimat itu hanyalah sebuah guyonan iseng, sesuatu yang tidak pernah serius diucapkan. Namun, saat ini pikiranku sudah tak lagi dangkal, jauh tenggelam. Semua sudah sangat berbeda ketika aku mendengar kalimat itu untuk kedua kalinya. Kalimat terkutuk itu jauh lebih mencekam dari yang aku duga.


Pertama kali aku mendengarnya ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam kondisi yang tenang, kalimat itu keluar tanpa adanya tanda-tanda. Kakakku yang sedang membantuku mengerjakan PR mengatakannya sembari tetap menatap ke buku catatan yang sedang dia periksa. 

"Aku ingin mati."

Saat itu hujan sedang turun deras, lampu di kamar yang kita pakai tidak dinyalakan karena cahaya dari luar yang menembus pintu kaca masih terasa cukup. Aku yang berada di samping Kakak, menoleh ke arahnya, tidak mengerti kenapa dia mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu. 

Kakak memang orang yang tertutup; siswa SMA yang selalu mengurung dirinya di kamar setiap kali pulang dari sekolah. Walau begitu, Ayah sangat membanggakannya. Selalu mendapatkan peringkat satu di kelas, menjuarai Olimpiade Sains Nasional, menguasai piano dan taekwondo. Semua yang ayah harapkan selalu dapat dia kabulkan. Aku pun sama mengaguminya. Sejauh yang aku pikir, Kakak merupakan sosok yang sempurna. Karena itulah, untuk anak berumur 10 tahun, aku sama sekali tidak dapat menemukan satu pun jawaban dari pertanyaanku itu sendiri.

"Kakak ngomong apa sih? Haha," aku spontan membalas dengan santai. Kakak hanya tersenyum merespon balasanku itu dan kembali memeriksa hasil PR lain yang sudah kukerjakan.

Aku menjadi lebih tenang ketika Kakak menunjukkan senyumnya. Mungkin Kakak cuma bercanda agar suasana di kamar tidak hanya dipenuhi oleh suara rintik hujan. Begitulah pikirku, sebelum keesokan paginya aku menemukan tubuh kakakku menggantung di langit-langit kamarnya. 

Siluet yang tidak pernah aku pikirkan untuk melihatnya. Perasaanku bercampur aduk ketika mengalaminya pertama kali. Terlebih badan itu milik orang yang kukenal, milik kakakku sendiri. Aku takut, kaget, sedih, bingung, mual. Wajahku tidak dapat memproses ekspresi apa yang harus ditampilkan. Namun, tidak bagi mulutku. Sesuatu yang semenyeramkan ini membuatnya langsung bereaksi seketika. Mulutku berteriak kencang. Sangat kencang. Hingga memenuhi seluruh rumah, yang bahkan sampai tidak dapat menampungnya sendiri. 

Seluruh orang yang dapat mendengarnya datang menghampiriku dan memeluk tubuhku dengan sangat erat, seraya tidak membiarkanku untuk melihat kakakku lagi untuk selama-lamanya.


Aku masih saja menatap hujan tiap kali mereka turun.

Aku masih mengingatnya sampai sekarang.


Sebuah entitas yang selalu menghantuiku hingga saat ini. Dan monster itu, entah apa alasannya, kembali muncul. Perempuan yang saat ini sedang duduk bersamaku di depan ruang eskul berkebunnya, mengatakannya. 

"Aidan, kamu pernah berpikir bagaimana rasanya lenyap dari dunia ini? Akhir-akhir ini aku memikirkan itu."

Perasaan dingin, aroma lembab khas hujan, dan suara gemercik air yang membenturi setiap benda yang dijatuhinya menyelimuti kita. Aku hanya menengok ke arahnya.

"Aku ingin mati."

Sama seperti saat itu, kutukan itu muncul di kala hujan. Aku tetap mempertahankan pandanganku. Berbeda dengan kakak, dia mengatakannya begitu santai, dengan senyuman menyertai wajahnya yang sedang memperhatikan salah satu bunga matahari di halaman yang kian menunduk dibasahi air. 

Aku sama sekali tidak mengerti. Lagi-lagi orang yang sering kuhabiskan waktu bersama. Apa yang aku lewatkan? Kalyna, perempuan yang selalu ceria itu, kenapa harus dia yang mengatakan kalimat terkutuk itu kembali kepadaku.

Dadaku seketika sesak.

Memang, banyak yang terjadi kepadanya selama setahun terakhir. Aku tahu. Ayahnya yang meninggal hampir dua tahun lalu, keluarganya yang harus pindah rumah, ibunya yang masih saja murung; dia yang gagal masuk sekolah negeri, juga kakak perempuannya yang harus bantu membiayai tiap kebutuhan. Aku tahu itu. Tapi, aku pun tidak pernah berhenti membantunya. Jadi, kenapa?


"Apa?" adalah satu kata yang hanya dapat kuucapkan.

"Bukan apa-apa." Dia melebarkan sedikit senyumnya seolah meyakinkanku. 

Perasaan yang telah lama kukubur, datang kembali. Dan lagi-lagi dari orang yang kusayangi. Aku takut.

 

Sejak saat itu, tidak peduli apapun kegiatan yang kulakukan, ingatan pada waktu itu sering kali melintasi kepalaku. Aku terus berpikir, mencari cara untuk mencegah bencana itu kembali terulang. 

Aku selalu menyapanya tiap pagi, aku selalu meninggalkan cemilan, selalu menemaninya makan dan membicarakan sesuatu di ruang eskulnya saat jam istirahat; aku membantunya mencari anggota baru di tahun pelajaran berikutnya, dia pun tidak lagi menjadi satu-satunya anggota di sana. Satu tahun telah berlalu dan dia terlihat menikmati keseharianya seperti biasa, aku pun begitu. Namun, selimut takut ini tetap mendekapku. Aku masih sering merasa tidak nyaman tiap kali melangkah ke depan, aku takut melewatkan sesuatu, lagi.


Suatu sore, secara kebetulan, aku menemuinya saat dia pulang dari kerja sambilannya. Dengan secara spontan pun aku mengajak dia berkunjung ke rumahku untuk pertama kalinya .

"Ehh?? Ah, maaf, sebentar. Aidan, mukaku kusam? Keringatan, ya?" Aku hanya tertawa melihat sikapnya itu. Dia resah, namun terdengar antusias. 

"Kalau begitu, ayo?" 

Dia mengangguk dan memberi senyumnya, agak malu.


Kita sampai 20 menit setelahnya. Kedua orang tuaku menyambut dengan terkejut dan semangat, Kalyna gugup menjawab setiap pertanyaan yang mereka lemparkan. Kita duduk di meja makan, menikmati makanan dan saat-saat yang sebelumnya tidak pernah kita rasakan bersama, dan Kalyna pun masih saja terlihat gugup. Aku sangat menikmati gelagatnya itu, begitu pula momen ini. Tetapi, di saat itu juga pertanyaan kembali terbesit dalam pikiranku, apa ini cukup?

Malam menuju pulang dari pertemuan yang sangat mendadak dan mendebarkan tadi, Kalyna mengomentari pohon mangga yang ada di halaman depan, "Ini pohon yang dulu kita cangkok saat SD itu?"

"Iya. Aku masih merawatnya baik-baik hingga hari ini."

Kalyna tersenyum. "Aku juga." Tidak lama, dia melepaskan senyumnya itu, memperhatikan tiap daun dan ranting yang ada di pohon secara seksama. "Sebelum akhirnya harus kutinggalkan di rumah lamaku, bersama ayah."

Aku membalikkan pandangan ke arahnya. "Lain kali, mau coba cek?"

"Hm!" Kalyna membalas pandanganku, semangatnya kembali muncul.


Di hari sabtu, di hari libur kerjanya, kita berjanjian di taman dekat rumahnya untuk bertemu. Aku sudah menunggu dengan motor Scoopy-ku, tidak lama dia datang. Kalyna mengenakan kemeja dan rok panjang yang serba putih, juga cardigan yang biasa dia kenakan. Tubuh semampai dan rambut panjangnya yang terurai selalu terlihat indah bersama luaran khasnya itu. Aku sedikit tertegun, "memang mirip Tao Tsuchiya," gumamku, sebelum akhirnya membalas lambaian tangannya.

Aku mengendarai motor dan dia memandu, kita pun tiba ke dalam area perumahan Kalyna yang dahulu 15 menit kemudian. Perumahan yang nampak asri dan hijau. Aku menyarankan Kalyna untuk melanjutkan perjalanan hingga ke rumah ayahnya dengan berjalan kaki. Dia setuju.


Saat itu siang, sekitar pukul satu, namun karena banyaknya bayangan pohon yang menutupi jalan, suasana di sini terasa begitu segar. Tiap langkahnya, Kalyna mendapati tempat-tempat yang dulu pernah dia datangi. Di tiap tempat itu juga Kalyna menceritakan kenangannya satu per satu.

Kita mampir ke taman kecil yang memiliki kolam dan jembatan yang menengahinya. Kalyna bilang, saat musim hujan, dia dan teman-temannya menangkap kecebong yang selalu muncul di sana. Aku tertawa, penasaran dengan sosok kecilnya yang pernah tomboy. 

Tidak jauh dari situ, dia menyapa tukang bakso yang sama yang selalu melayaninya sejak kecil. Kita pun akhirnya memutuskan makan siang di sana. Dia bisik-bisik, bilang bakso uratnya lebih enak, bakso telurnya bau amis. Aku pun beli bakso telurnya untuk meledek dia, tapi apa yang dia bilang benar. Dia tertawa pelan melihat raut wajahku yang berusaha menghabiskannya, "ternyata masih sama, ya, hihi". Dia menyantap bakso urat yang ada di mangkuknya dengan sangat puas sambil menertawaiku.

Kita kembali jalan, dia dipanggil oleh para tetangga saat bertemu di jalan, "Eh, Kalyna? Sudah lama, ya. Besarnya. Kamu sehat?" "Si gadis kecil yang selalu pulang bawa belalang sekarang pulangnya bawa laki-laki, ya." Mereka puas menjahilinya, aku sulit menahan tawa. "Ssstt, Bibi-bibi masih saja, ssstt!" Dia menyuruh para tetangga itu untuk diam dengan ekspresif dan muka yang memerah, menanyai kabar mereka, lalu mencubit perutku ketika mendapati aku masih tertawa.

Dan masih banyak hal lainnya yang membuat dia jauh lebih sering bercerita dari biasanya, hingga akhirnya kita sampai di sebuah rumah sederhana tanpa lantai tingkat, namun lebar, dengan halaman depan yang cukup lapang.


illustration: © げみ


"Masih sama, masih banyak tanamannya." Kalyna melihat dengan penuh nostalgia.

"Syukurlah, ya"

"Iya." Air muka Kalyna berseri-seri menjawab responku yang sederhana. Aku ikut bahagia.

"Ah, itu pohonnya?"

"Ahhh! Benar! Itu!"

"Bagaimana kalau kita ambil satu batangnya dan menanamnya di rumahku? Itu akan tumbuh menjadi pohon yang berbeda, namun tetaplah pohon yang sama."

Kalyna tambah semangat mendengar ide itu, dia lantas mengenggam tanganku. "Wahh, stek, ya! Ide bagus! Aidan memang cerdas!"

Entah karena pujiannya atau sesuatu yang kudapat di tanganku, tapi aku yakin mukaku merah sekarang ini.


Kita lalu membuka pagar dan mengetuk pintu rumah itu. Seseorang membukakan dan menyapa kita dengan ramah, sepasang pasutri yang sudah cukup berumur. Aku meminta izin dan mereka menyetujuinya dengan tersenyum ramah. Kita semua ke halaman samping yang masih terhubung dengan halaman depan. Aidan menggergaji sebagian batang dan Kalyna memasukkannya ke dalam totebag.

Sesudahnya, kita berdua disuguhi minum oleh pemilik rumah baru itu dan berbincang bersama, sebelum akhirnya pamit untuk pulang.


Kalyna berjalan mendahuluiku, menggandeng tangannya ke belakang dan diayunkan dengan riang, aku memperhatikannya dari belakang. "Kamu terlihat senang sekali," komentarku.

"Entah kenapa, aku jadi teringat ucapan yang pernah seseorang katakan kepadaku. 'Semua yang terjadi kepada mereka, kesusahan yang didapat setelah kamu lahir, itu semua bukan salahmu. Takdir tidak bisa dikendalikan. Mungkin kamu terus mempertanyakan sesuatu dan jawaban itu takkan pernah muncul. Kamu hanya perlu tetap berusaha,'" Kalyna membalas pertanyaanku, lalu melanjutkan, "Kalyna, mungkin kamu terlalu fokus ke bagian buruknya. Bagaimana kalau kamu ceritakan kenangan menyenangkan kalian, pasti banyak, aku mau dengar.' Sejak saat itu aku merasa tenang." Kalyna menengadahkan wajahnya, memandangi langit yang hari ini terus biru dan terasa hangat.

Aku masih terdiam, melihatnya terus berjalan. "Kalimat yang bagus."

"Aku pikir juga begitu, aku akhirnya teringat lagi."

"Memangnya siapa yang pernah bilang begitu?"

"Ehh? Hahaha. Siapa, ya?" Dia malah berlari pelan.

"Eh, laki-laki, kah?" Aku mengejarnya.

"Kamu banyak-banyak makan ikan dulu!" dia teriak sambil tetap berlari.


Kita sampai di rumahku dan langsung menuju ke halaman depan, tepatnya ke dekat pohon mangga milikku. Kalyna menyerahkan totebag-nya, aku pun menerimanya. Aku menyayat pangkal batang yang ada di dalamnya itu dengan cutter dan melumurinya dengan parutan bawang merah. Selesainya, aku menunggu batang itu kering, lalu mulai menanamnya dengan hati-hati pada media tanam yang telah kumasukkan dalam pot. "Kamu benar tidak apa menanamnya di sini?" tanyaku sambil.

"Aku rasa dia akan bahagia tinggal di sini," Kalyna menjawab. Matanya dengan sayu tetap memperhatikan batang pohon yang berada di genggaman tanganku yang kotor.

Aku merespon dengan senyum mendengar jawaban Kalyna. Kita melanjutkan kegiatan itu ditemani cahaya sore hari jingga yang memancar hangat, menyatu dengan tawa bahagia yang kita buat. Banyak orang yang melewati rumahku, mungkin beberapa di antara mereka berpikir kita adalah pasangan yang bahagia, aku pun berharap begitu. Aku yang tetap melanjutkan menanam, sesekali memperhatikan senyum yang seharian ini selalu berada di wajahnya. Sudah jauh berbeda, pikirku.

"Bersama kamu, aku rasa dia pasti bahagia," Kalyna mengulangi perkataannya, jauh lebih lapang.

Aku membeku, hanya dapat memandanginya, merasa beberapa beban yang meninggali dadaku perlahan lenyap. Aku tidak bisa menutupi senyumku, aku melanjutkan menanamnya dengan tetap begitu.

"Eh, kenapa? pipimu merah, lho." Dia tertawa.

"Bukan apa-apa." Aku ikut tertawa kecil.

"Ehhh." Dia tersenyum dan mulai membantuku mengeruk tanah.


"Aidan, terima kasih."


Lagi-lagi aku hanya bisa membalas senyum, tidak bisa menjawabnya dengan benar. Mataku mulai terasa berat.

Ah, aku tahu. Perasaan mencekam itu sudah hilang seutuhnya.

Ah, aku sudah mampu menjaganya. Dan akan selalu begitu untuk seterusnya.


- - - - -


Part of the story of Kalyna's childhood friend and her special one, Aidan. 

Comments

Popular Posts