Dia yang Lenyap dari Dunia Ini
![]() |
| illustration: © loundraw |
Untuk pertama kalinya anak laki-laki itu dapat bangun dengan sangat puas selama hidupnya, namun dia menyadari satu hal yang sangat janggal selama aktivitasnya setengah hari ini: keberadaannya terasa sudah lenyap dari dunia.
Orang tuanya yang tidak menyapa ketika dia keluar dari kamarnya, nenek yang biasa dia ucapkan "pagi" sama sekali tidak memberi respon, angkot yang tidak berhenti untuk menawari tumpangan, semua teman satu kelasnya yang sama sekali tidak menoleh ke arahnya, bahkan beberapa guru pun ada yang tidak mengabsen namanya. Selain satu atau dua hal dan alasan, A merasa bahwa itu sudah biasa, namun rasanya kali ini jauh berbeda. Dirinya seakan tidak dapat terlihat oleh semua orang. Dia yang sudah meyakini itu, kembali ragu ketika seorang murid perempuan memandangi ke arah bangku yang saat ini dia duduki dengan raut muka yang sedikit kaget.
A melihat ke sekitar sebelum memastikan bahwa yang dipelototi anak perempuan itu benar-benar dirinya. Murid itu bernama B, dia terkenal di sekolah karena sifat anehnya, yang bahkan dapat terlihat jelas dari caranya berpakaian. Bando hitam, pita berwarna senada yang mengikat rambut gaya twintail-nya; anting, kalung, dan gelang-gelang dengan simbol yang tergantung di leher dan lengannya; jaket dengan perpaduan warna hitam dan merah muda, juga kaus kaki dan sepatu bergaya gothic-nya. Penampilannya benar-benar esentrik.
"Dibanding seperti Misa, yang mungkin saja dia pikir begitu, menurutku malah lebih mirip Ruby dengan kostum Little Demon-nya Yoshiko." Gumam A, yang secara refleks selalu dibuat berkomentar begitu setiap kali melihat B.
A mungkin juga teringat soal rumor B yang berbicara sendiri di dekat kolam taman sekolah tempat dia berada sekarang, atau gosip dari kelasnya perihal B yang tiba-tiba menunjuk ke arah atas lemari kelas. Tapi, dia tidak mau menggubris itu. Dia sedikit senang mengetahui ada yang mau, atau mungkin lebih tepatnya "bisa" berinteraksi dengannya.
"Kamu benar A?" adalah pertanyaan sekaligus kalimat pertama yang terlontar ke arahnya. A yakin bahwa B termasuk dalam ratusan, ribuan murid di sekolahnya yang belum pernah berbicara sekali pun dengannya.
"Iya. Kamu bisa melihatku?" A masih belum percaya apa yang terjadi kepadanya.
"Eh? A-ah iya, tentu!"
- - -
"Kamu benar A?" B mulai bertenya setelah mukanya agak tertegun mendapati A yang hanya duduk di bangku bawah pohon, seakan dia sedang melihat makhluk yang tidak pernah dilihatnya.
Untuk A yang belum pernah berinteraksi dengannya pun membuatnya berekspresi demikian. "Benar. Kamu tau aku?"
"Tentu!"
"Kok bisa?"
"Eh, hehe, bi-bisa dong! Aku tau semua nama murid di sekolah ini."
"Oh" A merasa jawabannya itu seperti tidak meyakinkan, tapi mengingat bahwa hanya dia satu-satunya yang tidak peduli dengan semua hal di sekolah, dia mewajarkan pengetahuan B itu.
Tidak lama, A langsung tersentak memgingat masalah yang sedang dimilikinya. "Sebentar, kamu bisa melihat aku?"
Wajah B sedikit agak tersentak mendengar pertanyaan yang dilontarkan A. Bola matanya terpaku ke muka A, mulutnya sedikit menganga. "Eh?"
"Ah maaf, aku hanya merasa seolah diriku tidak bisa dilihat lagi oleh semua orang. Kamu satu-satunya yang berbicara denganku setengah hari ini."
Air muka B sama sekali tidak berubah, seolah dia tak akan pernah bisa berubah lagi setelahnya. Hanya terkadang kepalanya agak menengok ke bawah, ke kanan dan ke kiri, dengan bola matanya yang mengikuti. Mulutnya mulai tertutup, seolah resah karena pertanyaan itu.
"Apa aku sudah benar-benar sudah dibenci oleh semua orang? Aku sama sekali tidak tau kesalahanku."
"Eh, tidak, tidak! Tidak kok, kamu tidak dibenci!" B seketika mulai membuka mulutnya lagi mendengar keluhan A itu. "Kamu mau tau apa alasannya?"
"Jadi benar ada alasannya?" A tertarik mendengar jawaban B yang seolah tau akar penyebab masalahnya.
"Bukan soal itu! Mungkin kamu tidak akan percaya dengan jawabanku, tapi aku pernah mengatasi masalah ini sebelumnya. Ini masalah antara kehidupan dan kematian. Penyakit yang sangat serius!"
A jadi teringat gunjingan mengenai B yang sering memenuhi kelasnya. B terkenal bukan hanya karena penampilannya, tapi juga kebiasaan anehnya. Lebih tepatnya dia orang yang spesial. Mereka percaya bahwa dia adalah seorang indigo. Beberapa hari kelas membicarakan B yang terlihat lagi berbicara seorang diri di dekat kolam ikan yang ada di belakang sekolah, lalu beberapa hari lain kelas membicarakan soal B yang menunjuk-nunjuk ke atas lemari saat jam sore sedang kosong. Mungkin itu juga alasan kenapa dia jarang terlihat bersama murid lain. Di dalam hati A, sebenarnya pun dia juga sedikit takut.
"Apa benar-benar begitu?" Wajah A mulai berubah lemas.
"Tidak salah lagi!" B sangat yakin menjawab keraguan A. "Ini penyakit xxx, di mana keberadaan penderitanya tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Orang yang terkena penyakit ini bisa melakukan kegiatan seperti biasa, seperti makan dan minum, tetapi orang tidak bisa melihatnya. Seolah sendok dan gelas yang sedang diangkat sama sekali tidak berpindah tempat meskipun sebenarnya tidak demikian."
"Sangat tidak masuk akal."
"Aku pun masih berpikir begitu."
A menengok ke arah B yang mulai ikut duduk di bangku yang sedari tadi ditempatinya. "Lalu, kenapa kamu bisa melihat aku?"
"E-eh, i-itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa menyadarinya! Lagi pula, aku ini indigo kan!"
"Ah, benar juga" A langsung mempercayainya. "Kamu bilang pernah mengatasinya?"
"Eh, oh, iya! Kalau kamu mau, aku bisa menyembuhkanmu. Kamu mau?" B menengaskan pandangan matanya ke arah A yang matanya seketika terbelalak.
"Kamu sungguh bisa?"
"Tentu! Tentu!"
"Sebelumnya aku ingin tahu, kenapa penyakit ini bisa muncul?"
"Hmmm..." B mengangkat kepalanya selagi tangan kirinya memegangi ujung dagunya. "Kamu benar mau tau?"
"Iya."
"Begitu, ya. Baiklah. Sebenarnya penyebab dari penyakit ini berasal dari penderitanya itu sendiri. Mereka yang terjangkit penyakit ini selalu merasa tidak ingin berada di dunia ini lagi." A tertegun mendengar penjelasan B itu.
"Dia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, semua yang terjadi kepadanya. Banyak alasan kenapa mereka berpikir begitu: bisa karena cinta, pekerjaan, keluarga, dan lainnya. Intinya, mereka sudah tak acuh dengan kehidupan seutuhnya. Oleh sebab itu, Tuhan menuruti keinginan mereka, sehingga diri mereka sudah tidak terhubung dengan tempat tinggalnya dahulu."
"Apa aku memang pernah berpikir seperti itu?"
"Hmm" B membuat jeda sebelum melanjutkan penjelasannya. "Semua penderitanya akan dihapus ingatannya selama satu bulan terakhir sebelum terjangkit penyakit tersebut, sehingga tidak tercipta penyesalan, jadi kamu sudah melupakannya."
"Apa tidak sebaliknya? Karena aku sekarang merasa menyesalinya jika memang begitu." A menundukkan kepalanya, seraya berusaha mencari-cari ingatan yang tersisa di dalam kepalanya.
"Ka-kamu mungkin akan mengerti nantinya." B mengubah arah kepalanya ke arah burung-burung yang mulai berkumpul lagi saat dirinya menceritakan soal penyakit yang diderita A.
"Jadi, bagaimana mengobatinya?" A sedikit mengeraskan suaranya.
B seketika menengok kembali ke arah A. "Untuk itu, hmm, kamu harus mencari kebahagiaan."
"Kebahagiaan?"
"Yap! Kebahagiaan yang membuat dirimu menerima lagi keberadaan kehidupan ini. Lebih tepatnya, sesuatu yang membuatmu bersyukur hidup di dunia ini."
A hanya termenung ke hadapan B setelah mendapatkan jawabannya. Seakan dia melihat..., dia kebingungan.
"Ja-jangan liat ke arahku terus dong!" B berusaha menutupi mukanya demgan kedua tangannya.
"Maaf. Aku hanya tidak mengerti."
Ekspresi B kembali tenang melihat reaksi A yang masih meraba-raba kebenarannya, yang kemudian membuatnya menunduk sebentar, sebelum akhirnya mulai menyarankan bantuannya kembali. "Jadi, apa kamu mau aku membantumu?" B memasang senyum ke arah A.
"Kamu memang benar bisa?"
"Tentu! Percayakan padaku!" B memegang kedua pinggulnya, kepalanya dinaikkan sambil matanya tertutup.
A mengingat bahwa perempuan itu sudah menyebut "tentu" sebanyak tiga kali. "B = perempuan yang sangat percaya diri" langsung menempel di pikirannya.
"Bagaimana caranya?"
"Sebentar hehe" B merogoh-rogoh saku jaketnya, sebelum akhirnya mengeluarkan buku saku. "Tada! Kamu cukup mengikuti mengikuti list dariku yang ada di buku ini, melakukan semua aktivitasnya, bersama denganku."
"Kenapa harus bersamamu?" A langsung menyabet buku saku yang ada di tangan B dan mulai membacanya halaman demi halaman, dia tidak menghindari semua upaya B untuk merebut bukunya kembali. "Apa-apaan ini!? Kalau kamu bercanda, aku benar-benar marah. Ini hanya kegiatan yang ingin kau lakukan kalau punya pacar. Apanya yang bisa mengobatiku?"
"Sudah! Aku malu" B akhirnya mendapatkan kembali buku saku berwarna pink-hitamnya itu. "Semua pihak akan saling diuntungkan. Kau akan sembuh dan aku bisa merasakan punya pacar. Adil, bukan? Aku tidak mau begitu saja menolongmu, tau!"
A hanya melihat ke arah B, tidak ada kata yang pas untuk menjawab tawaran yang aneh itu.
"Bagaimana, setuju?" B mengerutkan alisnya, pipinya memerah karena masalah buku saku itu.
"Aku tidak tau cara lain. Aku akan mencobanya."
"Deal!" B menjabat tangan A dan dengan cepat membebaskannya lagi. "Kalau begitu sampai jumpa sabtu ini di stasiun X, A!" B langsung lari dengan cepat ke arah lorong.
A memperhatikan B yang sedang berlari hingga tubuhnya tidak terlihat lagi. A kembali ke posisi awal sebelum B, orang satu-satunya yang bisa melihatnya, datang. Dia menunduk memperhatikan burung-burung yang masih mematuk-matuk tanah. "Sebenarnya apa yang benar-benar terjadi padaku".
Untuk A yang belum pernah berinteraksi dengannya pun membuatnya berekspresi demikian. "Benar. Kamu tau aku?"
"Tentu!"
"Kok bisa?"
"Eh, hehe, bi-bisa dong! Aku tau semua nama murid di sekolah ini."
"Oh" A merasa jawabannya itu seperti tidak meyakinkan, tapi mengingat bahwa hanya dia satu-satunya yang tidak peduli dengan semua hal di sekolah, dia mewajarkan pengetahuan B itu.
Tidak lama, A langsung tersentak memgingat masalah yang sedang dimilikinya. "Sebentar, kamu bisa melihat aku?"
Wajah B sedikit agak tersentak mendengar pertanyaan yang dilontarkan A. Bola matanya terpaku ke muka A, mulutnya sedikit menganga. "Eh?"
"Ah maaf, aku hanya merasa seolah diriku tidak bisa dilihat lagi oleh semua orang. Kamu satu-satunya yang berbicara denganku setengah hari ini."
Air muka B sama sekali tidak berubah, seolah dia tak akan pernah bisa berubah lagi setelahnya. Hanya terkadang kepalanya agak menengok ke bawah, ke kanan dan ke kiri, dengan bola matanya yang mengikuti. Mulutnya mulai tertutup, seolah resah karena pertanyaan itu.
"Apa aku sudah benar-benar sudah dibenci oleh semua orang? Aku sama sekali tidak tau kesalahanku."
"Eh, tidak, tidak! Tidak kok, kamu tidak dibenci!" B seketika mulai membuka mulutnya lagi mendengar keluhan A itu. "Kamu mau tau apa alasannya?"
"Jadi benar ada alasannya?" A tertarik mendengar jawaban B yang seolah tau akar penyebab masalahnya.
"Bukan soal itu! Mungkin kamu tidak akan percaya dengan jawabanku, tapi aku pernah mengatasi masalah ini sebelumnya. Ini masalah antara kehidupan dan kematian. Penyakit yang sangat serius!"
A jadi teringat gunjingan mengenai B yang sering memenuhi kelasnya. B terkenal bukan hanya karena penampilannya, tapi juga kebiasaan anehnya. Lebih tepatnya dia orang yang spesial. Mereka percaya bahwa dia adalah seorang indigo. Beberapa hari kelas membicarakan B yang terlihat lagi berbicara seorang diri di dekat kolam ikan yang ada di belakang sekolah, lalu beberapa hari lain kelas membicarakan soal B yang menunjuk-nunjuk ke atas lemari saat jam sore sedang kosong. Mungkin itu juga alasan kenapa dia jarang terlihat bersama murid lain. Di dalam hati A, sebenarnya pun dia juga sedikit takut.
"Apa benar-benar begitu?" Wajah A mulai berubah lemas.
"Tidak salah lagi!" B sangat yakin menjawab keraguan A. "Ini penyakit xxx, di mana keberadaan penderitanya tidak dapat dirasakan oleh orang lain. Orang yang terkena penyakit ini bisa melakukan kegiatan seperti biasa, seperti makan dan minum, tetapi orang tidak bisa melihatnya. Seolah sendok dan gelas yang sedang diangkat sama sekali tidak berpindah tempat meskipun sebenarnya tidak demikian."
"Sangat tidak masuk akal."
"Aku pun masih berpikir begitu."
A menengok ke arah B yang mulai ikut duduk di bangku yang sedari tadi ditempatinya. "Lalu, kenapa kamu bisa melihat aku?"
"E-eh, i-itu, hanya orang-orang tertentu yang bisa menyadarinya! Lagi pula, aku ini indigo kan!"
"Ah, benar juga" A langsung mempercayainya. "Kamu bilang pernah mengatasinya?"
"Eh, oh, iya! Kalau kamu mau, aku bisa menyembuhkanmu. Kamu mau?" B menengaskan pandangan matanya ke arah A yang matanya seketika terbelalak.
"Kamu sungguh bisa?"
"Tentu! Tentu!"
"Sebelumnya aku ingin tahu, kenapa penyakit ini bisa muncul?"
"Hmmm..." B mengangkat kepalanya selagi tangan kirinya memegangi ujung dagunya. "Kamu benar mau tau?"
"Iya."
"Begitu, ya. Baiklah. Sebenarnya penyebab dari penyakit ini berasal dari penderitanya itu sendiri. Mereka yang terjangkit penyakit ini selalu merasa tidak ingin berada di dunia ini lagi." A tertegun mendengar penjelasan B itu.
"Dia tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, semua yang terjadi kepadanya. Banyak alasan kenapa mereka berpikir begitu: bisa karena cinta, pekerjaan, keluarga, dan lainnya. Intinya, mereka sudah tak acuh dengan kehidupan seutuhnya. Oleh sebab itu, Tuhan menuruti keinginan mereka, sehingga diri mereka sudah tidak terhubung dengan tempat tinggalnya dahulu."
"Apa aku memang pernah berpikir seperti itu?"
"Hmm" B membuat jeda sebelum melanjutkan penjelasannya. "Semua penderitanya akan dihapus ingatannya selama satu bulan terakhir sebelum terjangkit penyakit tersebut, sehingga tidak tercipta penyesalan, jadi kamu sudah melupakannya."
"Apa tidak sebaliknya? Karena aku sekarang merasa menyesalinya jika memang begitu." A menundukkan kepalanya, seraya berusaha mencari-cari ingatan yang tersisa di dalam kepalanya.
"Ka-kamu mungkin akan mengerti nantinya." B mengubah arah kepalanya ke arah burung-burung yang mulai berkumpul lagi saat dirinya menceritakan soal penyakit yang diderita A.
"Jadi, bagaimana mengobatinya?" A sedikit mengeraskan suaranya.
B seketika menengok kembali ke arah A. "Untuk itu, hmm, kamu harus mencari kebahagiaan."
"Kebahagiaan?"
"Yap! Kebahagiaan yang membuat dirimu menerima lagi keberadaan kehidupan ini. Lebih tepatnya, sesuatu yang membuatmu bersyukur hidup di dunia ini."
A hanya termenung ke hadapan B setelah mendapatkan jawabannya. Seakan dia melihat..., dia kebingungan.
"Ja-jangan liat ke arahku terus dong!" B berusaha menutupi mukanya demgan kedua tangannya.
"Maaf. Aku hanya tidak mengerti."
Ekspresi B kembali tenang melihat reaksi A yang masih meraba-raba kebenarannya, yang kemudian membuatnya menunduk sebentar, sebelum akhirnya mulai menyarankan bantuannya kembali. "Jadi, apa kamu mau aku membantumu?" B memasang senyum ke arah A.
"Kamu memang benar bisa?"
"Tentu! Percayakan padaku!" B memegang kedua pinggulnya, kepalanya dinaikkan sambil matanya tertutup.
A mengingat bahwa perempuan itu sudah menyebut "tentu" sebanyak tiga kali. "B = perempuan yang sangat percaya diri" langsung menempel di pikirannya.
"Bagaimana caranya?"
"Sebentar hehe" B merogoh-rogoh saku jaketnya, sebelum akhirnya mengeluarkan buku saku. "Tada! Kamu cukup mengikuti mengikuti list dariku yang ada di buku ini, melakukan semua aktivitasnya, bersama denganku."
"Kenapa harus bersamamu?" A langsung menyabet buku saku yang ada di tangan B dan mulai membacanya halaman demi halaman, dia tidak menghindari semua upaya B untuk merebut bukunya kembali. "Apa-apaan ini!? Kalau kamu bercanda, aku benar-benar marah. Ini hanya kegiatan yang ingin kau lakukan kalau punya pacar. Apanya yang bisa mengobatiku?"
"Sudah! Aku malu" B akhirnya mendapatkan kembali buku saku berwarna pink-hitamnya itu. "Semua pihak akan saling diuntungkan. Kau akan sembuh dan aku bisa merasakan punya pacar. Adil, bukan? Aku tidak mau begitu saja menolongmu, tau!"
A hanya melihat ke arah B, tidak ada kata yang pas untuk menjawab tawaran yang aneh itu.
"Bagaimana, setuju?" B mengerutkan alisnya, pipinya memerah karena masalah buku saku itu.
"Aku tidak tau cara lain. Aku akan mencobanya."
"Deal!" B menjabat tangan A dan dengan cepat membebaskannya lagi. "Kalau begitu sampai jumpa sabtu ini di stasiun X, A!" B langsung lari dengan cepat ke arah lorong.
A memperhatikan B yang sedang berlari hingga tubuhnya tidak terlihat lagi. A kembali ke posisi awal sebelum B, orang satu-satunya yang bisa melihatnya, datang. Dia menunduk memperhatikan burung-burung yang masih mematuk-matuk tanah. "Sebenarnya apa yang benar-benar terjadi padaku".



Comments
Post a Comment