Cardigan
![]() |
| illustration: © loundraw |
Di hari pemakamannya, secara diam-diam aku mencuri cardigan peninggalan ibuku yang tergantung rapih di lemarinya. Cardigan yang sering kali dia pakai ketika masih hidup, cardigan berwarna kuning yang secerah senyumnya tiap sore saat aku datang mengunjungi rumah ayahku. Tanpa mengingatnya pun, senyuman itu langsung terpintas di benakku. Sebuah senyuman yang sangat hangat. Aku langsung memasukkan cardigan itu ke dalam ransel sekolah yang kubawa ketika mataku mulai terasa perih dan suara langkah kaki dari luar yang semakin mendekat.
"Sedang apa kamu di dalam sini?" Sebuah pertanyaan dengan nada datar yang tak nyaman keluar seketika pintu terbuka. Pertanyaan itu berasal dari adik ibuku, yang mukanya selalu tidak berani aku pandang.
"Ah, ma-maafkan aku. Aku izin keluar."
Suara yang lebih kecil keluar ketika aku melewatinya. "Kamu kira anak tiri sepertimu layak untuk masuk ke kamar ini? Jangan bercanda." Aku hanya menunduk mendengar perkataannya.
Benar. Memang begitulah adanya. Dia bukan ibu asliku. Cardigan yang kudekap di dalam ranselku ini milik ibu tiriku. Lebih tepatnya, dia adalah istri pertama dari ayahku, sedangkan ibu yang melahirkanku hanyalah istri kedua. Ayah menikahi ibuku karena dirinya menginkan keturunan, permintaan yang tidak dapat dipenuhi ibu tiriku. Alasan itu pulalah yang membuat keberadaanku, keluarga kami, seolah merebut tempatnya. Setiap kali aku mengingat soal itu, aku selalu merasa tidak layak berada di dekatnya. Aku, kakak perempuanku, ibuku, kita hanyalah seorang pencuri. Setidaknya itulah yang kupikirkan sebelum aku mengingat kembali perkataan terakhirnya kepadaku.
"Kalyna, apa kamu mau jadi anak Ibu?"
Kalau tidak salah, terakhir kali kuingat kedatangan pertamaku ke kediaman ini ketika aku masih TK sedangkan kakak perempuanku sudah duduk di bangku kelas 3 SD. Untuk pertama kalinya kami diajak ayah ke rumah utamanya, di mana tempat dia tinggal bersama ibu tiriku.
- - - - -
Part of the story of Kalyna's step mother.



Comments
Post a Comment