Sedianya Komik di Perpustakaan Sekolah Bukanlah Sesuatu yang Negatif
![]() |
| Photo: Valed.jp |
Sering kali saya mendengar omongan orang tua yang melarang anaknya untuk membaca komik, mereka mengatakan bahwa komik hanya bersifat rekreatif, bahkan sebagian menyalahkan komik sebagai faktor yang membuat anak mereka malas belajar. Professor Carol Tilley dari University of Illinois berpendapat, bahwa "kritik dan pandangan buruk tentang komik sebenarnya berawal dari anggapan kalau anak hanya senang melihat gambar dan tidak membaca isi di dalamnya". Persepsi negatif itulah yang mungkin saja membuat sebagian perpustakaan sekolah, khususnya sekolah dasar, hanya menyediakan sedikit koleksi komik, atau bahkan tidak sama sekali.
Jika boleh saya berpendapat, sistem pendidikan di sini hanya memayoritaskan perkembangan intelektual tanpa mempehatikan nilai sosial/emosi si anak. Mereka tidak menyeimbangkan pengajaran lain, seperti moral dan kreativitas, tetapi hanya peduli akan nilai akademis. Hal itu tentu sangat disayangkan, bukan? Untuk itulah perpustakaan sekolah harus berani menggebrak dan berubah. Dengan menyediakan komik, diharapkan perpustakaan sekolah dapat turut membantu dalam memperbaiki masalah ini.
Kenapa saya berani mengatakan itu? Karena komik sejatinya juga dikenal sebagai sumber daya instruksional dalam meningkatkan keterampilan literasi dan mempertahankan motivasi (O’English, Matthews, Lindsay, 2006) serta memiliki beberapa manfaat positif lainnya bagi perkembangan anak.
![]() |
| Photo: Shutterstock |
Memperluas Imajinasi Anak
Komik adalah jenis buku cerita yang terdiri atas gambar dan teks yang bergerak dari panel ke panel, dari gambar yang saling terangkai inilah anak dapat membayangkan bagaimana latar cerita berjalan, karakter berbicara, hingga memecahkan masalahnya; proses menganimasikan tiap gambar itulah yang akan mengembangkan imajinasi anak.
Sebagian besar seniman grafis dewasa ini tumbuh dengan membaca buku komik, bahkan rata-rata kenalan saya dari agensi iklan masih mengikuti manga (komik Jepang), seperti One Piece dan Mashle. Kita tentu tidak akan tahu apakah anak tertarik pada seni buku komik, menggambar, atau desain jika kita tidak memperkenalkan mereka pada komik.
Mengenalkan Anak dalam Mengapreasi Seni
Komik dapat membantu anak-anak memahami pentingnya seni dalam mendongeng. Komik juga dapat membantu mereka belajar bagaimana seni dalam menjelaskan cerita dan memiliki kesempatan untuk memikirkan warna dan gaya.
![]() |
| Luffy Helps Nami, via: One Piece chapter 81 |
Mengajarkan Anak Pesan Moral dan Empati
Di cerita komik terdapat yang elemen yang dinamakan perkembangan karakter (character development), perjalanan sang karakter utama menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dari perjalanan inilah sang karakter mempelajari dan menunjukkan banyak hal positif, seperti menolong teman, tidak mudah putus asa, rasa sayang orang tua, dan lainnya. Contoh yang bisa dilihat yaitu seperti bagaimana Naruto berjuang dalam meraih mimpinya untuk menjadi Hokage sejak kecil, Luffy yang selalu peduli dengan rekan bajak lautnya, atau mungkin Spiderman yang memberikan motivasi kepada mereka yang merasakan kesedihan.
Gambar komik yang menarik memiliki efek cukup kuat kepada diri anak. Seni dalam komik memudahkan pembaca untuk terhubung dengan karakter dan membayangkan bagaimana rasanya berada dalam situasi yang sama. Hal ini bisa membangun sikap empati dalam diri anak.
![]() |
| Spider-Man Comics, via: ChildrenPublishing.com |
Meningkatkan Kemampuan Anak Membaca Arti di Balik Kalimat
Leslie Morrison dari Northwestern Center for Talent Development, sebagaimana dikutip dari ctd.northwestern.edu, berpendapat kalau narasi visual yang ada dalam komik melatih anak mengolah makna dan mengambil kesimpulan dari suatu tulisan.
Bukan cuma makna yang tersurat, tapi komik juga mengandung inferensi, yaitu menarik makna tersirat dari susunan informasi yang sudah dibaca. Ini membantu anak-anak memahami konsep dengan lebih baik karena konteks dapat divisualisasikan. Contohnya, memahami metafora atau membedakan antara kalimat ucapan tulus dan sarkasme.
Dunia kita adalah masyarakat visual yang dipenuhi dengan gambar masing-masing dengan maknanya sendiri. Karena komik menawarkan banyak citra visual, membacanya memudahkan anak-anak memahami petunjuk visual tersebut.
Meningkatkan Kemampuan Literasi Anak
Walau terasa menyenangkan, namun komik juga merupakan salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kemampuan literasi anak. Dengan cerita ringan dan tampilan visual menarik, komik memberikan anak kesempatan untuk memahami isi bacaan sesuai dengan urutan, membuat kesimpulan berdasarkan fakta, juga belajar tentang ejaan, penggunaan tanda baca, dan tata bahasa yang baik.
Bahkan anak yang sebelumnya tidak suka membaca pun pasti akan merasakan manfaat membaca komik bagi anak ini. Anak yang baru belajar membaca juga dapat mengasahnya dengan komik, tentu dengan tingkatan yang sesuai dengan usianya ya.
![]() |
| Via: leercomicsesleer hastag on Twitter |
Memperkaya Perbendaharaan Kata Anak
Sederet hasil penelitian di situs
Visual Language Lab mengungkap kalau aktivitas otak saat membaca komik sama
dengan saat membaca teks biasa. Itu artinya manfaat membaca komik bagi anak
tidak kalah baiknya dari membaca buku biasa, bukan?
Saat membaca komik, anak pasti
akan menemui banyak kata baru yang belum pernah ditemuinya. Apalagi jika komik yang dibaca memiliki
tema tertentu seperti sejarah, pertanian, kedokteran, atau teknologi. Sering menemui kata tertentu dalam komik
juga membiasakan anak untuk menggunakannya dengan konteks yang tepat dalam
percakapan sehari-hari.
Meningkatkan Kemampuan Menulis Anak
Di tingkatan pendidikan berikutnya dan hingga dewasa nanti, kemampuan menulis dengan baik sangat dibutuhkan bahakan juga akan sangat menunjang kariernya di masa depan. Jadi kemampuan ini tidak bisa disepelekan begitu saja.
Secara tidak langsung, sering membaca komik membiasakan anak untuk membayangkan ide dalam bentuk gambar, mengurutkannya, kemudian mengambil kesimpulan di pikiran. Nah, proses tadi akan sangat membantu anak dalam menuangkan ide ke bentuk tulisan, seperti menulis cerita, essay, makalah, atau presentasi.
![]() |
| Via: Parenting.Orami.co.id |
Menumbuhkan Minat Baca sekaligus Menemukan Minat Lain pada Anak
Sebagian besar anak dan remaja bisa memahami dan
mendiskusikan bacaan yang tingkatannya lebih tinggi di atas usia mereka.
Kombinasi kata dan gambar dalam komik memberikan kesempatan bagi anak untuk
mengembangkan kegemaran mereka dalam membaca. Saat anak membaca cerita yang
menyenangkan, lebih rumit, dan menarik, mereka akan termotivasi untuk membaca
lebih banyak.
Bagian terpenting
dalam menyediakan komik ke anak adalah menghidupkan minat bacanya. Seperti yang
saya sebutkan di atas, bagi sebagian orang dewasa berpikir komik bukanlah bahan
bacaan yang baik, namun sesungguhnya komik sangat membantu anak mengawali
kecintaannya pada buku. Banyaknya gambar dengan bahasa pendek dan ringan
selaras dengan kemampuan anak di tahap awal yang belum terbiasa membaca
kalimat- kalimat padat dan
lengkap. Sehingga, biarkanlah anak mencintai dan membaca komik, tentunya
disesuaikan perkembangan usianya.
Dalam menumbuhkan minat baca ini yang lebih penting diperhatikan adalah bagaimana menumbuhkan keasyikan anak terlebih dahulu, tanpa perlu memaksakan dan menumpuk banyak buku ke hadapan mereka. Komik dapat ditemukan dalam banyak genre seperti sejarah, sains, kedokteran, non-fiksi, adaptasi fiksi, dan banyak lagi. Kian waktu mereka membaca, akan tiba saatnya anak mulai membaca buku jenis lain dari yang biasanya mereka baca dan anak akan penasaran dengan minat yang mereka anggap menarik ketika menemukannya di sebuah komik; seperti mulai menyukai voli lewat Haikyuu atau tertarik dengan robot setelah membaca komik Why Series.
Menyegarkan Pikiran Anak dari Penat
Setelah anak
dijejali pelajaran di kelasnya, tentu kita sebagai pustakawan perlu
mengimbanginya dengan memberi hiburan untuk mengusir rasa lelahnya. Jelas,
dengan cerita ringan dan seru yang dihadirkan komik, akan membuat mereka rileks
dan semangat untuk menjalani aktivitasnya kembali.
===
Big Thanks to these articles for some references:








Comments
Post a Comment